Jumat, 08 Februari 2013

Say Hallo, Pada Semua Ingatan

Namaku Hardiyanti.
Hari ini, aku akan menceritakanmu sedikit kisah fiksiku, atau bahkan bisa jadi nyata? Entahlah.

Pernah ada seorang pria tidak dibawah derasnya hujan, dia terlindungi oleh atap rumahku. Aku ingin sekali menggodamu, masuk ke dalam dirimu, mencari kenangan apa yang bisa kusajikan untukmu hari itu.

Sejenak di pikiranku, aku ingin mengganggunya dengan memutarkan adegan paling membahagiakan dalam hidupnya. Hujan adalah kesedihan, terkadang hanya itu yang diingat (sebagian) manusia. Kamu tahu, saat aku merasuk ke dalam dirimu, aku melihat matanya yang penuh tatapan kosong. Mataku yg menahan air mata dari mata air luka. Aku larut di situ, tergoda menelusuri ingatan-ingatan manis saat itu bersamamu.

Ada banyak kehilangan di hidupku. Sesungguhnya, hatimu menyimpan banyak nama. Namun ketika hatimu memanggil, yang bergaung hanyalah Aku. Kamu ingin didengarkan bukan sekadar didengar, Kamu ingin dipeluk bukan sekadar memeluk.

Ah ya, ada kalanya hidup disapa segala sedih. Perjuangan sepenuh hati yang terpaksa tak menghasilkan tujuan. Harapan-harapan yang dipatahkan di tengah jalan. Seolah dunia adalah kerumunan besar penuh lubang yang selalu berniat menjatuhkan dan semua yang dilakukan adalah kesalahan.

Di tepi ingatanku, ada sebaris kalimat yang tak pernah ku ucapkan, “Bagaimana kamu memahami kesedihanku?” Mungkin didiamkan menunggu bibir ini berkata.

Bagaimana agar sesuatu yang hanya bisa dirasa dapat dipahami dengan baik? Bahkan tingkat pemahaman saja terkadang berbeda satu dengan yang lain.

Kamu tahu, waktu itu aku tak kuasa menjatuhkan setitik air mataku (mungkin kalau hujan menangkap basah diriku, dia akan menertawakanku). Kaupun ikut menangis disitu, kau tahu benar bahwa belum ada org lain selain aku yg mengetahui segala kebiasaanmu. Kubawa sedikit aroma hanyut, sedikit kesejukan, sedikit kesegaran. Kuhangatkan dirimu dengan memutar badan dan memutar salah satu ingatan terindah kita. Memeluk hatiku semampu dan selama yang kamu bisa. Membisikkanku, "bahwa semua akan kembali baik-baik saja." Sebab kesedihan –sama seperti aku– akan berlalu, tak kekal. Sebab hujan mengenal pelangi dan akan berhenti. Sesudah kesulitan akan ada kemudahan.

Kitapun berhenti, berhenti untuk meneteskan airmata. Kau melangkah pergi, sebaring tangis dimatamu yg berlinang yg kau coba tahan untuk tidak keluar. Dihadapamu ada aku. Coba saling menguatkan dan memeluk hati satu sama lain, memeluk rasanya itu terakhir pertemuan kita. Ada sedikit senyum dan harapan baru di hatiku (aku percaya pada hatimu, hatimu menyimpan banyak kebaikan sebanyak doa diam-diam yang diucapkan untuk orang-orang kau sayangi).

Meski sedih itu tak terelakkan, aku tak mau menambah kesedihanmu. Aku tak mau merasakan diam yang berkepanjangan, karena diam dan kesedihan, sulit diterjemahkan. Namun sesulit apapun itu, aku akan selalu berusaha menghapus kesedihanmu, memelukmu, membawa kesedihanmu pergi.

Namaku Hardiyanti. Aku tak bisa kamu lihat namun aku terasa dan dapat merasa (yang tak terlihat memang tidak akan dilihat, tapi yang tidak terlihat terkadang dapat memahami dengan lebih baik). Semoga kamu mengingatku. Aku ada di setiap hujanmu. Jika nanti kita bertemu, mari bersama-sama merayakan kegembiraan dan tawa. Simpan payungmu dan menarilah bersamaku di bawah hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar