Minggu, 10 Februari 2013

Penanda Kita

Ingatkah kamu, kapan kita bertukar hati?
Pertukaran yang tidak pernah diketahui kapan akan kita kembalikan. Aku tidak pernah melupakan kapan, pun aku mengharapkan kamu untuk tidak melupakannya.
Mungkin memang benar, sebenernya tidak ada gunanya mengingat awal, seperti tidak ada gunanya menebak akhir.

Sekarang, kita sedang bertarung dengan jarak yang sulit untuk ditempuh, juga waktu yang lebih lambat dari biasanya. Kelak, kemanangan kita akan dihadiahi ikatan yang utuh, membayar segala apa-apa yang kita telah korbankan.

Kamu,
Aku ingin memberitahumu sesuatu, sebuah rahasia yang ku tinggalkan di balik senyumku ini.
Kemarilah, mendekatlah pada cerminmu. Lihatlah baik-baik apa yang menonjol di wajahmu.
Tersenyumlah, saat kamu melihat hidungmu, tersenyum pulalah, saat kamu kamu melihat kedua bola matamu, tersenyum lagilah, bersama dengan kedua bibirmu yang tebal itu.

Di sebelah kanan hidungmu ada tai lalat, bukan? Itu aku yang melakukannya. Serta, dikedua belah pipimu ada lesung pipi, bukan? Itu juga aku yang melakukannya.
Aku yang memberimu tanda, supaya kamu mudah dikenali. Dalam kondisi terburuk apapun, aku lupa akan sosokmu atas kebiadaban dua hal, yaitu jarak dan waktu.

Tidak hanya kamu, akupun melakukannya juga untuk diriku sendiri. Aku memberi tanda yang sama, diposisi yang berbeda di sebelah kiri lebih bawah darimu, tepatnya dekat gaduku, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil darimu. Serta lesung pipi disebelah kananku. Supaya kamu mudah mengenaliku, dalam kondisi terburuk apapun atas kebiadaban dua hal yang sama.

Sekarang, kamu sudah tahu bukan?

Sekarang aku katakan pada dunia, jika saja terjadi hal yang jauh lebih buruk. Aku dan kamu tidak mampu untuk saling mengenali. Biarlah dunia yang mempertemukan dan menyatukan kita. Kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar