Seorang
gadis sedang nge-date dengan teman prianya. Mereka memang berteman, hanya
teman. Ketika dalam perjalanan…
Tiba-tiba
sang pria itu berkata, “Eh, laper nih. Gimana kalau kita cari makan saja?”
“Boleh-boleh,
aku juga laper nih. Isi perut sudah meminta jatah makan malamnya.”
“Nah,
kita makan disini saja, mumpung tidak terlalu ramai nih tempat makannya?”
Tapi,
sang gadis entah mengapa tidak bisa menolak. Kemanapun dia pergi jika bersama
teman prianya itu, dia selalu merasa nyaman. Karena temannnya itu selalu
mempunyai ide-ide unik, dan tempat-tempat yang menyenangkan.
Pria
itu mulai memesan makanan yang sama dengan sang gadis. Karena, apa yang pria
itu sukai, maka si gadispun akan ikut menyukai hal itu. Makanan sesaat dating,
di atas meja makan mereka nomor 7.
Gadis
itu, nampaknya diam-diam memandangi dan merekam dengan baik segala gesture sang
pria ketika menyuapkan dan mengunyah makanan itu. Sang gadispun tidak bisa
menahann senyum kecilnya, walaupun pria didepan matanya itu makan dengan
berantakan.
Selang
waktu, “Hey.” Pria itu memanggil sang gadis, setengah berbisik. “Gimana kalau
aku jadi sayang sama kamu?”
“Apa?”sang
gadis kikuk. Lalu tertawa. “Aku kan sering bilang, kalau kita pacaran hubungan
kita tuh gak bakal seakrab ini lagi. Dan semuanya akan berubah drastic
seketika.”
“Kita
bahkan belum pernah mencobanya, kan?”
“Banyak
yang sudah mencoba, tetapi tetap saja. Aku belum bisa membuka hatiku untuk
oranglain, lagi.”
“Tapi,
bukan berarti pehaman kita tentang bisa atau tidaknya kita bersama itu juga
harus sama dengan yang sebelumnya kan?”
“Aku,
tidak mau ambil resiko. Aku tidak mau ada yang berubah dari hubungan kita.
Pertemanan jauh kebih berarti, bukan? Itu kan katamu juga.”
“Apa
alasanmu hanya itu saja?”
“Tidak,
selain yang 2 alasan itu. Ini adalah alas an terakhirku. Jika kita pacaran, aku
mungkin bakal melukai hatimu, atau bahkan sebaliknya.”
“Lalu,
kenapa kamu terlihat bahagia. Jika bukan karena cinta ketika bersamaku. Apalagi
namanya?”
“Sayang
bukan cinta. Sayang bukan hanya untuk kekasih. Ya begitulah kamu, aku bahagia.
Karena….” Diam sesaat, “kamu bisa bikin aku nyaman setidaknya sampai saat ini.”
Saat itu, suasana seakaan membiarkan mereka terhanyut dalam suasana hening yang menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar