Rabu, 06 Februari 2013

Jejak Awal

Seorang gadis sedang nge-date dengan teman prianya. Mereka memang berteman, hanya teman. Ketika dalam perjalanan…
Tiba-tiba sang pria itu berkata, “Eh, laper nih. Gimana kalau kita cari makan saja?”
“Boleh-boleh, aku juga laper nih. Isi perut sudah meminta jatah makan malamnya.”
“Nah, kita makan disini saja, mumpung tidak terlalu ramai nih tempat makannya?”

Tapi, sang gadis entah mengapa tidak bisa menolak. Kemanapun dia pergi jika bersama teman prianya itu, dia selalu merasa nyaman. Karena temannnya itu selalu mempunyai ide-ide unik, dan tempat-tempat yang menyenangkan.

Pria itu mulai memesan makanan yang sama dengan sang gadis. Karena, apa yang pria itu sukai, maka si gadispun akan ikut menyukai hal itu. Makanan sesaat dating, di atas meja makan mereka nomor 7.
Gadis itu, nampaknya diam-diam memandangi dan merekam dengan baik segala gesture sang pria ketika menyuapkan dan mengunyah makanan itu. Sang gadispun tidak bisa menahann senyum kecilnya, walaupun pria didepan matanya itu makan dengan berantakan.

Selang waktu, “Hey.” Pria itu memanggil sang gadis, setengah berbisik. “Gimana kalau aku jadi sayang sama kamu?”

“Apa?”sang gadis kikuk. Lalu tertawa. “Aku kan sering bilang, kalau kita pacaran hubungan kita tuh gak bakal seakrab ini lagi. Dan semuanya akan berubah drastic seketika.”

“Kita bahkan belum pernah mencobanya, kan?”

“Banyak yang sudah mencoba, tetapi tetap saja. Aku belum bisa membuka hatiku untuk oranglain, lagi.”

“Tapi, bukan berarti pehaman kita tentang bisa atau tidaknya kita bersama itu juga harus sama dengan yang sebelumnya kan?”

“Aku, tidak mau ambil resiko. Aku tidak mau ada yang berubah dari hubungan kita. Pertemanan jauh kebih berarti, bukan? Itu kan katamu juga.”

“Apa alasanmu hanya itu saja?”

“Tidak, selain yang 2 alasan itu. Ini adalah alas an terakhirku. Jika kita pacaran, aku mungkin bakal melukai hatimu, atau bahkan sebaliknya.”

“Lalu, kenapa kamu terlihat bahagia. Jika bukan karena cinta ketika bersamaku. Apalagi namanya?”

“Sayang bukan cinta. Sayang bukan hanya untuk kekasih. Ya begitulah kamu, aku bahagia. Karena….” Diam sesaat, “kamu bisa bikin aku nyaman setidaknya sampai saat ini.”

Saat itu, suasana seakaan membiarkan mereka terhanyut dalam suasana hening yang menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar