Saya tidak tahu apakah ini permainan takdir atau memang hukum alam. Namun rasanya terlalu kejam jika takdir mempermainkan kita seperti ini. Saya memang percaya, bahwa inilah jawaban dari semesta. Iya, inilah kenyataannya saat semesta berbicara.
Suatu hal yang menurut saya lebih rumit.
Sebuah perjalanan panjang yang entah di mana akhirnya, seperti apa isinya, dan bagaimana satu dan hal lainnya saling berkesinambungan.
Saya tidak tahu ada berapa orang yang pernah berpikiran ingin mempunyai alat, atau kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Yang jelas, saya adalah satu dari beberapa orang tersebut. Apalagi di saat seperti ini, mungkin memang wanita diciptakan sebagai makhluk yang terkenal dengan segala kerumitan pikirannya.
Saya dan pria ini sudah duduk berhadapan selama berjam-jam namun saya tidak juga mengucapkan sepatah kata pun. Dalam ekspektasi saya, selama kedekatan kami, dia tidak akan mengatakan kalimat yang membuat saya terdiam berkepanjangan seperti ini. Dalam pikiran saya dia akan langsung menghamburkan pelukan dan menyapa hangat. Lalu kami akan bercerita panjang menghabiskan sore ini dengan tawa, dan bahagia selama-lamanya. Bukankah cinta memang sesederhana itu? Ada saya, ada dia, yang kemudian menjelma menjadi kita. Memangnya apa lagi yang harus dipikirkan?
“Hallo, Helleny? Are you still there?” Laki-laki itu akhirnya bersuara.
“Entahlah, Diofani.” Gadis inipun menjawab, namun ditambah dengan gestur memandang ke arah jalanan yang menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya tersentak sedemikian rupa, “Saya tidak yakin kamu sanggup meluluhkan hati saya. Kamu tidak tahu ada apa di dalam sana. Bagian dari diri saya, masa lalu saya, yang tidak pernah merasa penting untuk diceritakan pada siapapun.”
“Setidak mau itukah kamu menceritakannya?”
“Seperti itu adanya.”
Ya memang, perempuan. Rahasia hatinya sangat dalam, berusaha mengetahuinya pun tak ubahnya menyelami lautan.
“Pejamkan mata kamu sekarang.” Pinta Diofani.
“Maksud kamu, Dio?” Tanya heran, Helleny nampak tak mengerti rupanya.
“Tutup mata kamu, dan genggam tangan saya.” Yakinnya.
“Lalu?”
“Ingat semuanya tentang dia, semuanya. Hal baik tentangnya, dan hal buruk tentangnya. Kerinduan, keraguan, keinginan, kebencian, cinta, harapan, dan semua rasa yang bermuara padanya. Ulang semua saat-saat kamu bersama dia, bayangkan. Tapi saya minta kamu untuk terus menggenggam tangan saya selama mengingatnya, saya ingin kamu tahu saya ada, agar kamu tahu kamu tidak sendirian.”
Helleny pun melakukan apa yang pria itu pinta, dan tangannya tidak melepaskan genggaman tangan pria yg disampingnya. Wajahnya berubah-ubah, tersenyum geli, namun sesaat kemudian berubah memerah meredam amarah. Tak lama kemudian, genggaman tangannya semakin erat dan ia pun memilih membuka mata.
“Saya mencintai dia, Dio. Ternyata tetap sama.” Ucap gadis itu, yang membuat Dio merasa seperti tertampar dan tejatuh dari gedung tertinggi, hatinya seketika beku. “Setelah mengingatnya, saya sadar bahwa saya masih sangat mencintai dia, bahkan dengan semua rasa benci saya. Cinta dan benci yang saya miliki masih sebegitu kurang ajarnya sehingga mampu mengesampingkan keinginan saya untuk bersama kamu.” Lirih Helleny, tertunduk.
“Dan kamu masih ingin bersama dia?”
“Tidak. Saya mencintai dia, masih mencintai dia entah sampai kapan. Tapi bukan berarti saya akan membiarkan diri saya untuk kembali bersama dia.”
“Jadi maksudnya?” Diofani meminta pasti.
“Saya belum siap membiarkan diri saya untuk terluka lagi. Menurut saya, dengan tidak memiliki, tidak akan ada rasa kehilangan, tidak akan ada ketakutan. Tidak akan ada perasaan-perasaan seperti itu yang selalu menyiksa diri sendiri. Bahkan bisa menyiksa dirimu juga.”
“Saya tidak akan melukai kamu. Kamu akan melewati semua itu bersama saya.” Tegas Diofani.
“Tapi saya akan melukai diri saya sendiri. Dan saya lebih takut dengan kemungkinan bahwa saya bisa saja melukai kamu. Saya masih takut jika terus memikirkan dia, dan itu akan mengecewakan kamu, Dio.” Helleny pun menjawab tegas.
“Kamu mencintai saya?”
“Tidak semua rasa harus diberi nama dan bisa diungkapkan semudah itu. Termasuk apa yang saya rasakan pada kamu. Entahlah. Tolong jangan bawa saya terlalu jauh memikirkan semua ini. Kamu mengerti saya jauh dari yang bisa saya ungkapkan bukan? Kamu kenal saya sudah sangat lama.”
“Saya tau, saya tidak pernah bermaksud membuatmu memiliki rasa takut berlebihan. Kalau begitu, kenapa kamu terlihat bahagia. Jika bukan karena cinta ketika bersamaku. Apalagi namanya?”
“Saya nyaman bersama kamu, Dio. Saya hanya tidak siap untuk memberi kamu lebih dari itu.”
"Helleny, dengar saya. Bersiaplah dengan kebahagiaan yang fana. Yang tidak pernah kau ketahui bagaimana cara mengungkapkannya.”
Helleny hanya terdiam sambil memandangi dan merekam baik setiap gestur tubuh dan nada suara dari pria di depannya.
“Teruslah merasa nyaman dengan ketidakjelasan tersebut. Tapi saya yakin.. kelak nanti, semesta mempunyai caranya sendiri. Mungkin nanti, setelah kamu tidak lagi terjebak dalam permainan masa. Mungkin nanti, setelah apa yang kamu rasakan pada saya telah mampu kau beri nama. Setelah nanti kamu tidak merasa takut dengan segala masa lalumu” Lanjut Diofani.
Dia terdiam lagi dalam waktu yang cukup lama.
Dan saya memilih untuk melakukan hal yang sama.
Restaurant sore ini dihadiri oleh dua orang di satu meja yang sama namun tidak bersama disatukan oleh cerita dan dua cangkir teh hangat. Perbincangan yang sunyi. Saat itu, suasana seakaan membiarkan mereka terhanyut dalam suasana hening yang menyenangkan.
Rupanya Senja sore ini begitu indah, biarpun mereka terjebak dalam rasa diam di akhir yg berkepanjangan, tetapi pastilah senyum melukis didalam hati mereka.
Semesta mempunyai caranya sendiri, untuk Kami bersama Senja.
Suatu hal yang menurut saya lebih rumit.
Sebuah perjalanan panjang yang entah di mana akhirnya, seperti apa isinya, dan bagaimana satu dan hal lainnya saling berkesinambungan.
Saya tidak tahu ada berapa orang yang pernah berpikiran ingin mempunyai alat, atau kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Yang jelas, saya adalah satu dari beberapa orang tersebut. Apalagi di saat seperti ini, mungkin memang wanita diciptakan sebagai makhluk yang terkenal dengan segala kerumitan pikirannya.
Saya dan pria ini sudah duduk berhadapan selama berjam-jam namun saya tidak juga mengucapkan sepatah kata pun. Dalam ekspektasi saya, selama kedekatan kami, dia tidak akan mengatakan kalimat yang membuat saya terdiam berkepanjangan seperti ini. Dalam pikiran saya dia akan langsung menghamburkan pelukan dan menyapa hangat. Lalu kami akan bercerita panjang menghabiskan sore ini dengan tawa, dan bahagia selama-lamanya. Bukankah cinta memang sesederhana itu? Ada saya, ada dia, yang kemudian menjelma menjadi kita. Memangnya apa lagi yang harus dipikirkan?
“Hallo, Helleny? Are you still there?” Laki-laki itu akhirnya bersuara.
“Entahlah, Diofani.” Gadis inipun menjawab, namun ditambah dengan gestur memandang ke arah jalanan yang menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya tersentak sedemikian rupa, “Saya tidak yakin kamu sanggup meluluhkan hati saya. Kamu tidak tahu ada apa di dalam sana. Bagian dari diri saya, masa lalu saya, yang tidak pernah merasa penting untuk diceritakan pada siapapun.”
“Setidak mau itukah kamu menceritakannya?”
“Seperti itu adanya.”
Ya memang, perempuan. Rahasia hatinya sangat dalam, berusaha mengetahuinya pun tak ubahnya menyelami lautan.
“Pejamkan mata kamu sekarang.” Pinta Diofani.
“Maksud kamu, Dio?” Tanya heran, Helleny nampak tak mengerti rupanya.
“Tutup mata kamu, dan genggam tangan saya.” Yakinnya.
“Lalu?”
“Ingat semuanya tentang dia, semuanya. Hal baik tentangnya, dan hal buruk tentangnya. Kerinduan, keraguan, keinginan, kebencian, cinta, harapan, dan semua rasa yang bermuara padanya. Ulang semua saat-saat kamu bersama dia, bayangkan. Tapi saya minta kamu untuk terus menggenggam tangan saya selama mengingatnya, saya ingin kamu tahu saya ada, agar kamu tahu kamu tidak sendirian.”
Helleny pun melakukan apa yang pria itu pinta, dan tangannya tidak melepaskan genggaman tangan pria yg disampingnya. Wajahnya berubah-ubah, tersenyum geli, namun sesaat kemudian berubah memerah meredam amarah. Tak lama kemudian, genggaman tangannya semakin erat dan ia pun memilih membuka mata.
“Saya mencintai dia, Dio. Ternyata tetap sama.” Ucap gadis itu, yang membuat Dio merasa seperti tertampar dan tejatuh dari gedung tertinggi, hatinya seketika beku. “Setelah mengingatnya, saya sadar bahwa saya masih sangat mencintai dia, bahkan dengan semua rasa benci saya. Cinta dan benci yang saya miliki masih sebegitu kurang ajarnya sehingga mampu mengesampingkan keinginan saya untuk bersama kamu.” Lirih Helleny, tertunduk.
“Dan kamu masih ingin bersama dia?”
“Tidak. Saya mencintai dia, masih mencintai dia entah sampai kapan. Tapi bukan berarti saya akan membiarkan diri saya untuk kembali bersama dia.”
“Jadi maksudnya?” Diofani meminta pasti.
“Saya belum siap membiarkan diri saya untuk terluka lagi. Menurut saya, dengan tidak memiliki, tidak akan ada rasa kehilangan, tidak akan ada ketakutan. Tidak akan ada perasaan-perasaan seperti itu yang selalu menyiksa diri sendiri. Bahkan bisa menyiksa dirimu juga.”
“Saya tidak akan melukai kamu. Kamu akan melewati semua itu bersama saya.” Tegas Diofani.
“Tapi saya akan melukai diri saya sendiri. Dan saya lebih takut dengan kemungkinan bahwa saya bisa saja melukai kamu. Saya masih takut jika terus memikirkan dia, dan itu akan mengecewakan kamu, Dio.” Helleny pun menjawab tegas.
“Kamu mencintai saya?”
“Tidak semua rasa harus diberi nama dan bisa diungkapkan semudah itu. Termasuk apa yang saya rasakan pada kamu. Entahlah. Tolong jangan bawa saya terlalu jauh memikirkan semua ini. Kamu mengerti saya jauh dari yang bisa saya ungkapkan bukan? Kamu kenal saya sudah sangat lama.”
“Saya tau, saya tidak pernah bermaksud membuatmu memiliki rasa takut berlebihan. Kalau begitu, kenapa kamu terlihat bahagia. Jika bukan karena cinta ketika bersamaku. Apalagi namanya?”
“Saya nyaman bersama kamu, Dio. Saya hanya tidak siap untuk memberi kamu lebih dari itu.”
"Helleny, dengar saya. Bersiaplah dengan kebahagiaan yang fana. Yang tidak pernah kau ketahui bagaimana cara mengungkapkannya.”
Helleny hanya terdiam sambil memandangi dan merekam baik setiap gestur tubuh dan nada suara dari pria di depannya.
“Teruslah merasa nyaman dengan ketidakjelasan tersebut. Tapi saya yakin.. kelak nanti, semesta mempunyai caranya sendiri. Mungkin nanti, setelah kamu tidak lagi terjebak dalam permainan masa. Mungkin nanti, setelah apa yang kamu rasakan pada saya telah mampu kau beri nama. Setelah nanti kamu tidak merasa takut dengan segala masa lalumu” Lanjut Diofani.
Dia terdiam lagi dalam waktu yang cukup lama.
Dan saya memilih untuk melakukan hal yang sama.
Restaurant sore ini dihadiri oleh dua orang di satu meja yang sama namun tidak bersama disatukan oleh cerita dan dua cangkir teh hangat. Perbincangan yang sunyi. Saat itu, suasana seakaan membiarkan mereka terhanyut dalam suasana hening yang menyenangkan.
Rupanya Senja sore ini begitu indah, biarpun mereka terjebak dalam rasa diam di akhir yg berkepanjangan, tetapi pastilah senyum melukis didalam hati mereka.
Semesta mempunyai caranya sendiri, untuk Kami bersama Senja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar